Minggu, 09 April 2017

TESTIMONI PELAJARAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

 Setelah saya mempelajari mata kuliah psikologi pendidikan di usu ini saya mendapatkan hal yang positif. Yang tadinya saya tidak tahu, menjadi tau apa itu psikologi pendidikan. Awalnya saya bingung, tapi setelah saya membaca, dan mendengarkan dan memahami dosen mejelaskan, perlahan - lahan saya mulai tau apa itu psikologi pendidikan. Pada saat dosen menjelaskan mata kuliah tersebut cukup jelas, dan saya mampu untuk memahaminya. Meskipun saya harus membaca terlebih dahulu. Dan itu bukan berlaku dimata kuliah psikologi pendidikan saja. Tetapi di semua matakuliah. Jujur, ini pengalaman sekaligus suatu pelajaran yang baru buat saya. Karena di mata kukiah ini saya baru pertama x mengerjakan tugas dengan cara di post di blog, hehe. Kalau tidak ada ini, mungkin saya jarang ngepost di blog saya. Apa lg tugas dari mata kuliah ini ada mengenai observasi, itu adalah pengalaman yg baru juga buat saya. Karena saya sama sekali belumpernah melakukannya. Yah .. Saya senang dengan mata kuliah psikologi pendidikan ini.

Jumat, 07 April 2017

INTELEGENSI

Konsep inteligensi menimbulkan kontroversi dan debat panas,  sering kali sebagai reaksi terhadap gagasan bahwa setiap orang punya kapasitas mental umum yang dapat diukur dan dikuantifikasi dalam angka.  Pihak sekolah dan departemen pendidikan memperdebatkan apakah tes inteligensi itu berguna dan cukup fair atau tidak.  Mereka juga berdebat tentang apakah tes seperti itu akan dipakai untuk penempatan murid pada kelas khusus atau jurusan tertentu.  Psikolog pendidikan memperdebatkan apakah kita punya kapasitas mental umum ataukah sejumlah kapasitas mental spesifik.  Juga,  apabila kita punya beragam kapasitas mental,  lalu apa kapasitas itu?  Berapa banyak yang kita punya?
Novelis Inggris abad ke-20 Aldous Huxley mengatakan bahwa anak-anak itu hebat dalam hal rasa ingin tahu dan inteligensinya.  Apa yang dimaksud Huxley ketika dia menggunakan kata inteligensi (intelligence)?  Inteligensi adalah salah satu milik kita yang paling berharga,  tetapi bahkan orang yang paling cerdas sekalipun tidak sepakat tentang apa inteligensi itu.  Berbeda dengan berat dan tinggi badan dan usia,  inteligensi tidak bisa diukur secara langsung.  Anda tidak bisa mengintip ke-  pala murid Anda untuk mengamati inteligensi yang ada di dalamnya.  Kita hanya bisa mengevaluasi inteligensi murid secara tak langsung dengan cara mempelajari tindakan inteligensi murid.  Kita lebih banyak mengandalkan pada tes inteligensi tertulis untuk memperkirakan inteligensi murid.
Minat terhadap inteligensi sering kali difokuskan pada perbedaan individual dan penilaian individual. Perbedaan individual adalah cara di mana orang berbeda satu sama lain secara konsisten dan tetap.  Kita bisa berbicara tentang perbedaan individual dalam hal kepribadiannya (personalitas)  dan dalam bidang-bidang lain,  namun inteligensilah yang paling banyak diberi perhatian dan paling banyak dipakai untuk menarik kesimpulan tentang perbedaan kemampuan murid.
Beberapa tes inteligensi :
Ø  Tes Iteligensi Individual
1. Tes Binet
Tes itu disebut Skala 1905.  Tes ini terdiri dari 30 pertanyaan,  mulai dari kemampuan untuk menyentuh telinga hingga kemampuan untuk menggambar desain berdasarkan ingatan dan mendefinisikan konsep abstrak. pad Binet mengembangkan konsep mental age (MA)  atau usia mental,  yakni level perkembangan mental individu yang berkaitan dengan perkembangan lain.  Tak lama kemudian,  pada 1912 William Stern menciptakan konsep intelligence quotient (IQ),  yaitu usia mental seseorang dibagi dengan usia kronologis (chronological age CA),  dikalikan 100.  Jadi rumusnya IQ MA/CA x 100 Jika usia mental sama dengan usia kronologis,  maka IQ orang itu adalah 100 Jika usia mental di atas usia kronologis,  maka IQ-nya lebih dari 100.  misalnya,  anak enam tahun dengan usia mental 8 tahun akan punya IQ 133.  Jika usia mentalnya di bawah usia kronologis,  maka lQ-nya di bawah 100.  Misalkan anak usia 6 dengan usia mental 5 akan punya lQ 83.
Tes Binet direvisi berkali-kali untuk disesuaikan dengan kemajuan dalam pema haman inteligensi dan tes inteligensi.  Revisi-revisi ini disebut tes Stanford-Binet.  Dengan melakukan tes untuk banyak orang dari usia yang berbeda dan latar belakang yang beragam,  peneliti menemukan bahwa skor pada tes Stanford-Binet mendekati distribusi normal. distribusi normal adalah simetris,  dengan mayoritas skor berada pada tengah-tengah rentang skor yang mungkin muncul dan hanya ada sedikit skor yang berada mendekati ujung dari rentang itu.

2.Skala Wechsler.
     Tes lainnya yang banyak dipakai untuk menilai inteligensi murid dinamakan skala Wechsler yang dikembangkan oleh David Wechsler.  Tes ini mencakup Wechsler Preschool and Primary Scale of Intelligence-Revised (WPPSI-  R)  untuk menguji anak usia 4 sampai 6 tahun;  Wechsler Intelligence Scale for Chidren-Revised (WISC-R)  untuk anak dan remaja dari usia 6 hingga 16 tahun,  dan Wechsler Adult Intelligence Scale-Revised (WAIS-R)  Selain menunjukkan IQ keseluruhan,  skala Wechsler juga menunjukkan IQ verbal dan IQ kinerja.  IQ verbal didasarkan pada enam subskala verbal,  IQ kinerja didasarkan pada lima subskala kinerja.  Ini membuat peneliti bisa melihat dengan cepat pola-pola kekuatan dan kelemahan dalam area inteligensi murid yang berbeda-beda.

Ø  Tes individual versus Tes Kelompok
Tess inteligensi seperti Stanford-Binet dan Wechsler dilakukan berdasarkan basis individual.  Seorang psikolog memahami penilaian inteligensi individual sebagai interaksi antara pemeriksa dan murid.  Ini membuat psikolog tersebut bisa menyusun sampel perilaku murid.  Selama pengujian,  peneliti mengamati bagaimana laporan disusun,  minat dan perhatian murid,  apakah ada kecemasan dalam pe ngerjaan tugas,  dan tingkat toleransi murid menghadapi rasa frustasi.  Murid juga diberi tes inteligensi dalam kelompok pada saat yang bersamaan.  Tes inteligensi kelompok mencakup Lorge-Thorndike Intelligence list Tests,  Kuhlman-Anderson Intelligence Tests,  dan Otis-Lennon School Mental Abilities Tests.  Tes kelompok lebih nyaman dan ekonomis ketimbang tes individual,  namun juga ada kekurangannya.  Saat tes dilakukan pada satu kelompok besar,  peneliti tak dapat menyusun laporan individual,  menentukan tingkat kecemasan murid,  dan sebagainya.  Dalam situasi tes kelompok besar,  murid mungkin tidak memahami instruksi atau mungkin diganggu oleh murid lainnya.

Karena keterbatasan ini,  maka saat akan dibuat keputusan penting menyangkut murid,  tes inteligensi kelompok harus dilengkapi dengan informasi lain tentang kemampuan murid.  Strategi yang sama juga berlaku untuk tes individual,  meskipun biasanya kita lebih baik tidak terlalu yakin pada akurasi skor tes inteligensi kelompok.  Banyak murid yang mengikuti tes dalam kelompok besar di sekolah,  tetapi keputusan untuk menempatkan murid dalam kelas khusus anak penderita retardasi mental,  kelas pendidikan khusus,  atau kelas anak berbakat sebaiknya tidak didasarkan pada tes kelompok saja.  Dalam kasus seperti itu,  informasi relevan tentang kemampuan murid harus diperoleh dengan cara selain menggunakan tes.


Selasa, 04 April 2017

Perkembangan bahasa .


Apa itu bahasa ?
Bahasa adalah bentuk komunikasi,  entah itu lisan,  tertulis atau tanda,  yang didasarkan pada sistem simbol. Semua bahasa manusia adalah generatif (di ciptakan).  Penciptaan tidak terbatas adalah kemampuan untuk memproduksi sejumlah kalimat tak terbatas yang bermakna dengan menggunakan seperangkat kata dan aturan. Semua bahasa manusia juga mengikuti aturan fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatis.
Nah, disini saya akan menjelaskan satu persatu.
Apa itu morfologi ? Morfologi adalah aturan untuk mengombinasikan morfem,  yang merupakan rangkaian suara yang merupakan kesatuan bahasa terkecil.  Setiap kata dalam bahasa Inggris terdiri dari satu atau dua morfem. Sintaksis adalah intaksis adalah cara kata dikombinasikan untuk membentuk frasa dan yang bisa diterima.  Jika seseorang berkata kepada Anda, "Bob dipukul oleh Tom" maka Anda tahu siapa yang memukul dan siapa yang dipukul karena Anda memahami struktur kalimat tersebut.  Konsep "siapa melakukan apa kepada siapa" adalah tipe penting dari informasi sintaktis. Semantik adalah Semantik adalah makna dari kata atau kalimat.  Setiap kata punya ciri semantik.  Misalnya,  gadis dan wanita punya makna semantik yang sama,  yakni manusia berjenis kelamin perempuan,  tetapi berbeda dalam makna umurnya. Nah, yang terakhir itu paragmatis. Paragmatis adalah penggunaan percakapan yang tepat.  Ini melibatkan pengetahuan tentang konteks apa yang dikatakan dan kepada siapa serta bagaimana mengatakannya. Misalnya,  pragmatis dilakukan ketika anak-anak belajar membedakan antara bahasa sopan dengan kasar,  dan ketika mereka belajar untuk menceritakan lelucon sedemikian rupa sehingga menjadi lucu.
Ahli bahasa terkenal Noam Chomsky (1957)  mengatakan bahwa manusia cenderung mempelajari bahasa pada waktu tertentu dan dengan cara tertentu.  Bukti paling kuat untuk basis biologis dari bahasa adalah bahwa anak-anak di seluruh dunia mencapai titik penting dalam berbahasa pada saat yang hampir bersamaan dalam perkembangan mereka,  dan dengan urutan yang hampir sama,  meskipun ada banyak variasi dalam input bahasa yang mereka terima.  Misalnya,  di beberapa kultur,  orang dewasa tak pernah bicara dengan bayi di bawah satu tahun,  tetapi bayi ini tetap menerima masukan bahasa Anak juga bervariasi. perkembangan bahasa anak-anak tak hanya dipengaruhi faktor oleh biologis saja,  atau faktor sosial saja (Berko Gleason,  2000;  Gleason&  Ratner,  1998).  Selama apa pun Anda bicara dengan anjing,  si anjing tidak akan bicara,  karena ia tak punya kapasitas biologis untuk berbahasa sebagaimana yang dimiliki manusia. Sayangnya,  ada beberapa anak yang tidak bisa mengembangkan keahlian berbahasa yang baik meski sudah berinteraksi dan punya model peran yang baik.  Kaum interaksionis menganggap penting kontribusi faktor biologi dan pengalaman dalam perkembangan bahasa Yakni,  anak secara biologis siap untuk belajar bahasa saat mereka berinteraksi. Di dalam atau di luar sekolah,  kunci utamanya adalah mendorong anak mengembangkan bahasa.  Perkembangan bahasa bukan hanya soal memberi penghargaan anak karena ia berucap benar dan meniru seorang pembicara atau guru.  Anak akan lebih cerdas berbahasa jika orang tua dan guru secara aktif melibatkan anak-  anak dalam percakapan,  memberi mereka pertanyaan,  dan menekankan bahasa interaktif ketimbang bahasa perintah.
Penguasaan bahasa melewati beberapa tahap (Bloom,  1998;  Foley Thompson,  2002) Celoteh dimulai pada usia tiga sampai enam bulan.  Bayi biasanya mengucapkan kata pertamanya pada usia 10 sampai 13 bulan.  Pada usia 24 bulan,  bayi biasanya mulai memadukan dua kata.  Pada tahap ini,  bayi dengan cepat memahami arti penting dari bahasa untuk berkomunikasi.  Mereka menciptakan frase seperti "itu buku", "permenku", "mama jalan",  dan "cium papa"  Saat bayi menginjak usia kanak-kanak,  pemahaman mereka terhadap sistem aturan bahasa mulai meningkat.  Sistem aturan ini mencakup fonologi (sistem suara),  morfologi (aturan untuk mengombinasikan unit makna minimal).  Sintaksis (aturan membuat kalimat),  semantik (sistem makna),  dan pragmatis (aturan penggunaan dalam setting sosial).
Ketika anak mulai melampaui tahap pengucapan dua kata,  mereka menunjukkan pengetahuan tentang aturan morfologi.  Anak mulai menggunakan bentuk jamak dan positif dari kata benda (seperti kucing dan kucing-kucing).  Mereka meletakkan akhiran yang tepat pada kata kerja (dalam bahasa Inggris,  akhiran-s saat subjeknya orang ketiga.  tunggal,  dan-ed untuk bentuk kalimat lampau).  Mereka menggunakan proposisi (seperti di dalam,  di atas,  kata sandang (seperti sebuah),  dan beragam bentuk kata kerja (seperti "saya akan pergi ke toko")  Beberapa bukti perubahan dalam penggunaan aturan morfologis oleh anak-anak tampak ketika mereka menyederhanakan aturan itu secara berlebihan.
Saat anak melangkah melampaui tahap dua kata,  pengetahuan mereka tentang semantik atau makna juga bertambah cepat.  Kosakata dari anak usia 6 tahun berkisar antara 8.000 sampai 14.000 kata.  Dengan asumsi bahwa kata dipelajari sejak usia 12 bulan,  ini berarti anak menguasai 5 sampai 8 kata baru setiap harinya antara usia 1 sampai 6 tahun.  Setelah 5 tahun belajar kata,  penyerapan anak usia 6 tahun tidak melambat.  Menurut beberapa perkiraan,  rata-rata anak pada usia ini menguasai sekitar 22 kata baru setiap hari!  Nah,  bagaimana Anda sebagai orang dewasa jika diberi tugas menguasai 22 kata baru setiap hari?  Sungguh mengagumkan betapa cepatnya anak belajar bahasa.
Kemajuan dalam bahasa di masa kanak-kanak ini memberikan dasar bagi perkembangan selanjutnya pada usia sekolah dasar.  Anak-anak mendapatkan keahlian baru saat mereka masuk sekolah sehingga mereka bisa belajar membaca dan menulis:  termasuk penggunaan "displacement",  mempelajari apa 200 kata,  dan menata dan berbicara tentang suara (Berko Gleason,  dari bagaimana merepresentasikan suara Mereka mempelajari prinsip abjad,  bahwa huruf bahasa.  Saat anak-anak berkembang pada periode anak-anak kosakata.  mereka juga mulai menguasai tata bahasa dan lebih banyak.
Nah, disini saya akan menjelaskan secara singkar mengenai perkembangan/ perilaku anak sesuai dengan periode umurnya.
√ 0-6 bulan :
- Sekadar bersuara. 
- Membedakan huruf hidup
- Berceloteh pada akhir periode
√ 6-12 bulan :
- Celoteh bertambah dengan mencakup suara dari bahasa ucap
- Isyarat digunakan untuk mengomunikasikan suatu objek
√ 12-18 bulan :
- Kata pertama diucapkan
- Rata-rata memahami 50 kosakata lebih
√ 18-24 bulan :
- Kosakata bertambah sampai rata-rata 200 buah
- Kombinasi dua kata
√ 2 tahun :
- Kosakata bertambah cepat
- Penggunaan bentuk jamak secara tepat
- Penggunaan kata lampau (past tense)
- Penggunaan beberapa preposisi atau awalan
√ 3-4 tahun :
- Rata-rata panjang ucapan naik dari 3 sampai 4 morfem perkalimat
- Menggunakan pertanyaan "ya"  dan "tidak"  dan pertanyaan "mengapa",  di mana,  siapa,  kapan" 
- Menggunakan bentuk negatif dan perintah
- Pemahaman pragmatis bertambah
√ 5-6 tahun :
- Kosakata mencapai rata-rata 10.000 kata
- Koordinasi kalimat sederhana
√ 6-8 tahun :
- Kosakata terus bertambah cepat
- Lebih ahli menggunakan aturan sintaksis
- Keahlian bercakap meningkat
√ 9-11 tahun
- Definisi kata mencakup sinonim
- Strategi berbicara terus bertambah
√ 11-14 tahun :
- Kosakata bertambah dengan kata-kata abstrak
- Pemahaman bentuk tata bahasa kompleks
- Pemahaman fungsi kata dalam kalimat
- Memahami metafora dan satire
√ 15-20 tahun :
- Dapat memahami karya sastra dewasa

MENGAPA MEMPELAJARI PERKEMBANGAN ITU PENTING ?



Nah, kali ini aku bakalan ngebahas mengenai topik pembahasan mata kuliah pendidikan psikologi aku beberapa bulan yang lalu. Jadi Kira - kira kenapa y, Mempelajari perkembangan itu penting ? Terutama mengenai perkembangan anak . Karena, semakin banyak kita maupun orang tua mempelajari perkembangan anak, maka semakin banyak pula pemahaman kita tentang bagaimana cara yang tepat untuk mengajari mereka sejak dini hingga dewasa termasuk masa kanak - kanak itu lah  fase yang penting dalam kehidupan manusia.
Setiap anak sebagian berkembang sebagaimana anak-anak lainnya, dan sebagian berkembang dengan cara yang berbeda dengan anak lain. Kita sering memperhatikan keunikan disetiap anak itu berbeda - beda. Tetapi, para psikolog yang mempelajari perkembangan sering kali lebih tertarik pada karakteristik yang umumnya dimiliki anak - anak. Apa yang dimaksud oleh para psikologi kegika mereka berbicara tentang " perkembangan " seseorang ? Perkembangan adalah pola perubahan biologis, kognitif, dan sosioemosional yang dimulai sejak lahir dan terus berlanjut disepanjang hayat. kebanyakan perkembangan adalah pertumbuhan, meskipun pada akhirnya ia mengalami penurunan ( kematian ).
Pendidikan itu juga harus sesuai dengan perkembangan ini. Artinya, pengajaran untuk anak - anak harus dilakukan pada tingkat yang tidak terlalu sulit dan terlalu menegangkan atau terlalu mudah dan menjemukan.
Dalam mempelajari perkembangan, ingatlah bahwa perubahan perkembangan yang saya jelaskan diatas dapat membantu teman - teman untuk memahami seperti apakah level yang optimal untuk pengajaran dan pembelajaran kita terhadap perkembangan anak. Misalnya adalah keliru, jika kita mendesak anak - anak untuk membaca padahal mereka belum siap untuk itu dari sudut pandang perkembangan. Tetapi jika mereka sudah siap, membaca materi mata pelajaran harus diberikan pada level yang pas.

Naah...
Teman - teman, perlu juga kita tau bahwa pola perkembangan anak adalah pola yang kompleks karena merupakan hasil dari beberapa proses diantaranya yaitu proses biologis, kognitif, dan sosioemosional. Perkembangan itu juga bisa dideskripsikan berdasarkan periodenya.
Peroses biologis itu apa y ? Nah, proses biologis itu adalah perubahan yang ada pada tubuh anak. Nah, disini warisan genetik mendapatkan peran penting. Proses biologis disini melandasi tentang pergerakan otak, berat dan tinggi badan, perubahan dalam kemampuan bergerak, dan perubahan hormonal di masa puber. Selanjutnya kita masuk ke proses kognitif. Nah apa itu ? Yaitu perubahan dalam pemikiran, kecerdasan, dan bahasa anak. Peroses perkembangan kognitif memampukan anak untuk mengingat puisi membayangkan bagaimana sianak tersebut dapat memecahkan soal matematika atau soal - soal hitungan yang lainnya, menyusun strategi kreatif, atau menghubungkan setiap kalimat menjadi pemhicaraan yang bermakna.
Nah kita masuk yang terakhir yaitu proses sosioemosional adalah perubahan dalam hubungan sianak dengan orang lain, perubahan dalam emosi, dan perubahan dalam kepribadian. Pengasuhan anak, perkembangan ketegasan terhadap anak perempuan, dan perasaan gembira remaja saar mendadatkan nilai yang baik. Nah, semua itu mencerminkan perkembangan sosioemosional.
Banyak manfaat yang di dapatkanjika kita mempelajar perkembangan dalam mendiskripsikan, memahami serta meramalkan perilaku diri sendiri maupun orang lain, termasuk anak - anak. Misalnya orang tua sebagai pemimpin keluarga. Sebagai orang tua, tentunya tidak lepas dari proses pengawasan terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak-anaknya. Dengan begitu, orang tua diharapkan mampu memahami ilmu perkembangan sehingga mereka dapat mengetahui kemampuan dan tingkah laku anak sesuai dengan tingkat usia/perkembangannya.
Orang tua sangat perlu memperhatikan perkembangan kejiwaan anak sejakusia dini. Dengan begitu, setelah dewasa nanti, anak tersebut akan menjadi sosok yang dewasa dan tangguh dalam menghadapi setiap permasalahan sehingga kejadian yang tidak diinginkan dapat terhindar seperti bunuh diri, stress, depresi, dll. Dan tidak ada lagi istilah Masa kecil kurang bahagia karena adanya proses dan tugas perkembangan yang belum selesai yang disebabkan oleh minimnya pengetahuan orang tua dalam memahami tugas perkembangan anak-anaknya.
Mempelajari dan memahami perkembangan tidak hanya oleh kita atau orang tua tetapi juga oleh guru sebagai pendidik, karena guru merupakan orang tua di sekolah.Dengan begitu, mereka dapat memahami karakter, perilaku hingga kebiasaan anak didik. Terlebih lagi setiap anak didik yang terkumpul dalam satu ruang lingkup belajar memiliki karakter dan latar belakang yang berbeda-beda dan guru harus siap menghadapi perbedaan itu. Dengan mempelajari perkembangan maka guru akan dapat memahami bagaimana menyikapi perilaku atau karakter yang berbeda tersebut dan juga memungkinkan bagi guru untuk memahami materi dan metode pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak.Selain itu perlu adanya kerjasama dari anak itu sendiri, orang tua, guru dan pihak-pihak lain yang terkait agar perkembangan anak dapat terarah dengan baik dan tepat.
Nah, teman - teman, ini dulu y penjelasan aku mengenai betapa pentingnya kita mempelajari perkembangan itu. Selamat malam.. :)



Minggu, 19 Maret 2017

TAHAPAN PERKEMBANGAN UNTUK PENDIDIKAN

Kanak-kanak awal / PG TK (2-6tahun)
1.      Masa negativis yaitu masa membangkang dimana perkembangan ego berlangsung
2.      Masa eksplorasi yaitu masa dimana anak akan suka mencari tau tentang lingkungan sekitarnya, mencoba hal baru, dan lainnya
3.      Masa meniru yaitu masa anak akan mencoba untuk meniru apa yang dilakukan orang terdekatnya seperti orang tuanya
4.      Masa bermain yaitu masa dimana anak seharusnya memuaskan dirinya dengan bermain

Teori Kognitif Piaget pada masa ini adalah  Praoprasional. Yaitu karekteristik utamanya adalah perkembangan bahasa , berpikir simbolis, dan berpikir egosentris

Tingkat Perkembangan Moral menurut Kohl Berg pada masa ini adalah Prakonvesional. Pada tingkat ini, keterkaitan konkret terhadap individu dipertimbangkan dalam hal hukuman dan imbalan.

Maka dari penjabaran di atas dapat diberikan contoh belajar yang baik untuk anak usia PG/TK  yaitu belajar  :
a.        Sambil bermain , contohnya belajar berhitung  sambil bermain jumping and clap. Dimana anak akan menghitung 1 ketika ia berlompat 1 kali dan guru akan bertepuk tangan 1 kali juga, dan begitu seterusnya hingga angka yang ditentukan
b.      Mengeksplor lingkungam, contohnya ketika anak akan diajarkan untuk saying kepada alam dalam hal berkebun, anak akan dibiarkan bermain kotor seperti bermain tanah ketika ia akan mengambil tanah untuk tumbuhannya. Bermain air ketika hendak menyiram tumbuhannya. Dan berlari-larikan ketika ia aktif mengeksplor.




Masa Kanak-kanak Akhir/SD ( ± Sejak usia 6 tahun – 11 tahun)
Masa ini ditandai dengan hal-hal sebagai berikut:
·         Pengaruh teman sebaya mulai dominan
·         Mampu berfikir logis tentang objek & kejadian
·         Menguasai konversi jumlah yang berat
Tahap Perkembangan kognitif pada masa kanak-kanak akhir adalah: Operasional konkret (Jean Piaget). Artinya, aktivitas mental yang difokuskan pada objek-objek peristiwa nyata atau kongkrit. Dalam upaya memahami alam sekitarnya mereka tidak lagi terlalu mengandalkan informasi yang bersumber dari panca indera,karena anak mulai mempunyai kemampuan untuk membedakan apa yang tanpak oleh mata dengan kenyataan sesungguhnya (Logika). Contohnya dalam tahap pembelajaran disekolah seperti;
Guru menujukkan bola kepada siswa,kemudian berkata,”anak-anak ini bola”. Kemudian guru menyuruh siswanya untuk mengulangi kata-kata guru, “ini apa?”, “ini bola”. Kemudian guru dapat menempelkan gambar bola di papan tulis. Dibawah gambar bola itu ditempelkan tulisan ini bola. Guru lalu menyuruh siswa membacakan kembali tulisan ini bola tadi. Tulisan ini bola dapat dianalisis menjadi kata,menjadi suku kata,suku kata menjadi huruf dan terakhir tulisan di kembalikan pada posisi semula ( kalimat)
ini bola
i   ni  bo  la
i   n  i  b  o  l  a
i   ni  bo  la
ini bola
Pada tahap ini, anak –anak juga dapat diajari metode chunking. Yaitu mengubah huruf-huruf menjadi unit-unit kata yang bermakna. Misalnya penggunaan istilah Me-ji-ku-hi-bi-ni-u, untuk memudahkan anak mengingat warna merah,jingga,kuning,hitam,biru,nila,ungu (pelangi)
Tahap perkembangan moral pada anak anak akhir adalah : Konvensional ( Kholberg)
Tahap 3: Orientasi (Good boy/girl) .Anak ingin menyenangkan dan menolong orang lain,dapat menilai niat orang lain,dan mengembangkan standar tentang bagaimana orang yang baik itu. Misalnya Arya anak kelas 3 SD melihat bekal yang dibawakan oleh temannya dari rumah tumpah, akhirnya Arya mengajak teman nya tersebut untuk berbagi dan makan bekal yang arya punya.
Tahap 4 : Orientasi otoritas. Anak cenderung tunduk atau patuh pada orang yang dihormati.
Contohnya: Saat yuni ditegur oleh petugas kebersihan sekolah karena membuang sampah sembarangan, yuni tidak peduli. Lagi lagi dia tetap membuang sampah sembarangan. Namun pada saat Guru kelasnya yang menegur yuni secara langsung, yuni pun tidak berani lagi membuang sampah sembarangan di pekarangan sekolah.

Tahap Perkembangan Socioemotional pada anak-anak akhir adalah: Tahap Industry Vs Inferiority (Erick Erikson)
Perkembangan sosial emosional pada anak-anak akhir yaitu perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Menurut Erikson anak-anak mengembangkan kemandirian dan  otonomi jika eksplorasi serta kebebasan mendapatkan dukungan. (Contohnya Anton telah dibiasakan oleh ibunya untuk merapikan tempat tidur setelah bangun pagi). Dan juga rasa malu dan meragukan diri sendiri ketika mereka dihambat dan terlalu diproteksi.( Misalnya, Karin  ingin sekali mengikuti lomba menari disekolahnya, namun disisi lain dia takut dimarahi oleh ibunya yang tidak mendukung dan mengijinkan nya mengikuti kegiatan apa pun diluar jam pelajaran)
Masa Remaja / SMP& SMA (11-18 Tahun)
SMP
Pada tahap perkembangan ini, emosi cenderung meledak-ledak, tidak stabil, serta berubah-ubah. Memiliki pola pikir yang cenderung egosentris, perkembangan kognitif : operasional formal. Cara belajar yang tepat untuk tahap ini adalah  belajar dalam diskusi atau didalam kelompok. Dengan cara belajar yang demikian, mampu melatih diri untuk bisa menerima pendapat orang lain, blajar menyampaikan pendapat kepada orang lain, belajar menahan emosi. Jadi cara belajar itu tepat untuk tahap perkembangan ini.

Usia remaja pada masa SMP biasanya pola pikirnya egosentris, jadi Cara mengajar yang baik untuk anak SMP yang berada pada tahap remaja yaitu sifat mengajar dengan cara horizontal berarti kita sebagai pengajar menempatkan diri kita sama tinggi dengan siswa kita. Kita berbicara sebagai orang yang lebih dahulu tahu, bukan lebih pintar.  Kita mentransfer  ilmu, bukan member ilmu. Cara system belajarnya pun jangan terlalu otoriter, jika seperti itu maka Suasana kelas pun akan menjadi tegang, dan siswa pun akan merasa takut,  otomatis dia belajar bukan dari dorongan dirinya sendiri melainkan karena takut dengan si pengajar ata guru. Namun jika kita menyampaikan materi atau pelajaran itu secara santai atau anggaplah kita sedang bercerita tentang pengalaman sehinggai ilmu apapun itu tidak terkesan menyeramkan, sehingga siswa pun senang pada pelajaran itu dan lebih mudah memahami pelajaran tersebut.
Karena perkembangan  emosionalnya tidak  stabil atau berubah-berubah maka siswa berfikir bahwa, jika seorang pengajar menyampaikan pelajaran itu secara santai atau menarik maka otomatis siswa tersebut akan menyukai pelajaran tersebut walaupun awalnya mereka tidak suka pada pelajarnitu. Namun jika seorang pengajar menyampaikan pelajaran  itu secara otoriter atau berkesan memaksa maka siswa tersebut akan malas untuk belajar, padahal dia sangat menyukai pelajaran tersebut. Namun karena cara mengajarnya yang salah maka siswa tersebut jadi malas dengan pelajaran tersebut. Jadi dia belajar hanya karena takut maupun terpaksa, bukan atas kemauannya sendiri sehingga pelajaran yang disampaikan oleh seorang pengajar tersebut tidak diterima dengan baik.
Jadi,  bagi  para penagajar,  pada saat memasuki kelas atau mau menyampaikan materi maka harus bisa tau terlebih dahulu bagaimana cara memahami karakter-karakter siswa siswi tersebut, agar kita bisa tau bagaimana cara mengajar yang baik dan menyenangkan bagi para siswa agar mereka semangat untuk belajar, tetapi tetap harus melakukan system cara belajar-mengajar sesuai dengan peraturan yang sudah ditetapkan.

SMA
Intelektual adalah orang yang menggunakan kecerdasannya untuk bekerja, belajar, membayangkan, mengagas, dan menjawab persoalan tentang berbagai gagasan. Pertumbuhan otak mencapai kesempurnaan pada usia 12–20 tahun secara fungsional, perkembangan kognitif (kemampuan berfikir) remaja dapat digambarkan sebagai berikut:
1.      Secara intelektual remaja mulai dapat berfikir logis tentang gagasan abstrak.
2.      Berfungsinya kegiatan kognitif tingkat tinggi yaitu membuat rencana, strategi, membuat keputusan-keputusan, serta memecahkan masalah.
3.      Sudah mampu menggunakan abstraksi-abstraksi, membedakan yang konkrit dengan yang abstrak.
4.      Munculnya kemampuan nalar secara ilmiah, belajar menguji hipotesis.
5.      Memikirkan masa depan, perencanaan, dan mengeksplorasi alternatif untuk mencapainya psikologi remaja.
6.      Mulai menyadari proses berfikir efisien dan belajar berinstropeksi.
7.      Wawasan berfikirnya semakin meluas, bisa meliputi agama, keadilan, moralitas, dan identitas (jati diri).
Karakteristik perkembangan intelektual remaja digambarkan oleh Keating (Syamsu Yusuf, 2004 : 195 - 196) sebagai berikut:
1.      Kemampuan intelektual remaja telah sampai pada fase operasi formal sebagaimana konsep Piaget. Berlainan dengan cara berpikir anak-anak yang tekanannya kepada kesadaran sendiri di sini dan sekarang (here and now), cara berpikir remaja berkaiatan erat dengan dunia kemungkinan (world of possibilities).
2.      Melalui kemampuannya untuk menguji hipotesis, muncul kemampuan nalar secara ilmiah.
3.      Mampu memikirkan masa depan dan membuat perencanaan dan mengeksplorasi berbagai kemungkinan untuk mencapainya.
4.      Mampu menyadari aktivitas kognitifnya dan mekanisme yang membuat proses kognitif tersebut efisien atau tidak efisien.
5.      Cakrawala berpikirnya semakin luas.


Maka, dari pembahasan diatas anak SMA dapat diajarkan dengan salah satu cara yaitu konsep mind mapping yaitu membuat serangkaian pemetaan pikiran untuk dengan mudah mengembangkan pembahasan dalam point-point berangkai agar ia juga dapat mengembangkan wawasannya dalam kecakapan  berfikir dan berbicara

Senin, 06 Maret 2017

Perencanaan,Instruksi dan Teknologi Psikologi Pendidikan

Zahirahaq.blogspot.co.id
iincristinblogspot.co.id
rahulalexanderguitar.blogspot.com
http://fitriamelialove.blogspot.co.id
16056bfs.blogspot.co.id
habibinasution17.blogspot.com

Minggu, 05 Maret 2017

Psikologi Pendidikan

Contoh-contoh belajar berdasarkan Pendekatan Klasikal,Pendekatan Operan
dan Pendekatan Kognitif
Tugas Kelompok Pikologi Pendidikan.
Oleh Kelompok 9
Iin Cristin Sidabutar : 161301015
Fitri Amelia : 161301045
Nur Annisa Putri : 1613010147
Khadijah Zahira Haq : 161301051
Muhammad Habibie Ar Rasyid : 161301053
Billy Febrinandus Saragih : 161301056
Rahul Alexander : 161301064



Metode Belajar Klasikal
Contoh :
1.Sewaktu TK, Zaza tidak menyukai warna hitam. Dan zaza menyukai boneka beruang.  Namun ketika Zaza dibelikan boneka beruang dengan baju hitam yg dikenakan beruang. Lama-lama Ia pun menjadi menyukai warna hitam
         Warna Hitam(UCS)                                           =             respon berupa tidak suka
         Boneka Beruang (UCS)                                     =          respon berupa suka
         Warna hitam (UCS) + Boneka Beruang(UCS)  =          respon berupa suka
         Warna Hitam(CS)                                              =          respon berupa suka

2.Dafa awalnya biasa saja dengan susu. Tapi Dafa sangat menyukai coklat. Suatu ketika, ibunya memberikan susu rasa coklat, dan Dafa pun jadi sangat menyukai susu coklat. Sehingga dafa pun jadi sangat menyukai susu.
Susu (Stimulus Netral)                                     =          tidak ada respon
Coklat (UCS)                                                   =          respon berupa rasa suka
Susu (Stimulus Netral) + Coklat(UCS)           =          respon berupa rasa suka
Susu(CS)                                                         =          respon berupa rasa suka

3.Raihan sangat takut dengan anjing berukuran besar. Suatu ketika, ia melihat ada kucing sedang berlari kearahnya, ternyata kucing itu sedang dikejar oleh anjing besar Raihan pun jadi terkejut dan takut karena kehadiran anjing tersebut. Hal ini menyebabkan jika ada kucing berlari, ia menjadi was was akan adanya kehadiran anjing.
Kucing (Stimulus Netral)                                =          tidak ada respon
Anjing Besar (UCS)                                        =          respon berupa rasa  takut
Kucing(Stimulus Netral) + Anjing(UCS)       =          respon berupa rasa takut
Kucing (CS)                                                     =          respon berupa rasa takut

4.Selama Bulan Ramadhan, ZOLA berusaha untuk berpuasa, walaupun ia masih belum sanggup untuk menahan lapar dan haus. Usia zola yang masih sekitar 10 tahun ia selalu berusaha untuk puasa full seharian. Setelah di iming imingi akan diberikan uang Rp. 10.000 sehari oleh bundanya, jika ia dapat berpuasa selama seharian penuh. Zola berusaha keras untuk bisa menyelesaikan puasa seharian hingga pada akhirnya waktu berbuka puasa tiba dan zola diberikan uang Rp. 10.000 oleh bundanya.

Unconditioned Stimulus (US)            :  Berpuasa
Unconditioned Respon UR                : Menahan rasa lapar dan haus
Conditioned Stimulus CS                   : Uang Rp. 10.000
Conditioned Respon CR                    : Berusaha menahan rasa lapar dan haus

5.Setiap hari pukul 16.00 wib. Dini selalu pergi mengaji di masjid, ketika dia malas untuk mengaji , sang ayah menjanjikan akan memberikan boneka baru jika ia pergi mengaji. Setiap kali ia melihat boneka baru , dini selalu malas untuk pergi mengaji sampai di berikan boneka baru.

Unconditioned Stimulus (US)                        : Pergi mengaji
Unconditioned Respon (UR)              :Rasa malas
Conditioned Stimulus (CS)                :Mainan
Conditioned Respon (CR)                  : Malas pergi mengaji

6.Ketika saya akan kuliah pada pagi hari, saya selalu tidur tidak terlalu larut malam dan mengaktifkan alarm agar bisa bngun pagi dan melaksanakan sholat subuh.

Unconditioned Stimulus (US)                        : Pergi kuliah pagi
Unconditioned Respon (UR)              : Tidak tidur larut malam
Conditioned Stimulus (CS)                : Mengaktifkan Alarm
Conditioned Respon (CR)                  : Bangun pagi

7.suara lagu dari penjual es krim yang berkeliling dari rumah ke rumah.Awalnya mungkin suara itu asing, tetapi setelah si pejual es krim sering lewat, maka nada lagu tersebut bisa menerbitkan air liur apalagi pada siang hari yang panas.Bayangkan, bila tidak ada lagu tersebut betapa lelahnya si penjual berteriak-teriak menjajakan dagangannya.

8.Bunyi bel di kelas untuk penanda waktu atau tombol antrian di bank. Tanpa disadari, terjadi proses menandai sesuatu yaitu membedakan bunyi-bunyian dari pedagang makanan(rujak, es, nasi goreng, siomay) yang sering lewat di rumah, bel masuk kelas-istirahat atau usai sekolah dan antri di bank tanpa harus berdiri lama.
       Untuk menambah kelekatan dengan pasangan, Jika anda mempunyai pasangan yang “sangat suka (UCR)” dengan coklat (UCS). Disetiap anda bertemu (CS) dengan kekasih anda maka berikanlah sebuah coklat untuk kekasih anda, secara otonom dia akan sangat suka dengan coklat pemberian anda. Berdasarkan teori, ketika hal itu dilakukan secara berulang-ulang,  selanjutnya cukup dengan bertemu dengan anda tanpa memberikan coklat, maka secara otonom pasangan anda akan sangat suka (CR) dengan anda, hal ini dapat terjadi karena pembentukan perilaku antara UCS, CS, UCR, dan CR.




Pengkondisian Operan

Penguat Positif
Ø  Frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding).
Contoh :
1.      Sewaktu kami kecil, Setiap bulan Ramadhan, orang tua saya selalu mengatakan kepada saya maupun abang-abang saya kalau misalkan pada bulan ramadhan puasa kami full 1 bulan penuh maka kami akan diberi hadiah yaitu baju baru. Karena kami dijanjiin seperti itu, maka kamipun semakin giat untuk berpuasa 1 bulan penuh untuk mendapatkan hadiah tersebut.

2.      Yoga, anak yang duduk disekolah menengah Pertama di masukan oleh ibunya kedalam suatu kelas musik. Awalnya Yoga tidak mau masuk kelas musik, namun saat ibunya berkata akan mengajaknya berlibur keluar negeri kalau dia bisa memainkan berbagai jenis alat musik, Yoga pun akhirnya mau les musik dan belatih dengan giat.

3.      Andi anak kecil berusia dua tahun dimarahi oleh ibunya jika dia buang air kecil dicelana. Sebaliknya jika Andi memberitahukan terlebih dahulu kepada ibunya kalau dia ingin buang air kecil sehingga ibunya bisa membawakan ke WC, ia akan diberikan pujian dengan mengatakan bahwa Andi adalah anak yang pintar.

            Penguat Negatif
Ø  Frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak mnyenangkan).
Contoh :
4.      Setiap keponakan saya mau makan, lauknya harus ada mie instan. Saya selalu melarangnya karena itu tidak baik jika terlalu sering, sampai dia nangis dan dia tidak akan mau makan nasi kalau tidak pakai mie instan. Jadi sayapun memperbolehkannya memakan mie instan, karena kalau tidak dia tidak akan makan nasi.
            Hukuman
Ø  Konsekueni yang menurunkan probabiitas terjadinya suatu perilaku.
Contoh :
5.      Sewaktu kecil saya orangnya nakal, suka ngomong kasar kepada abang-abang saya. Jadi suatu hari mama saya dengar kalau saya ngomong kasar kepada abang saya, lalu mama saya langsung memarahin saya, dan menarik saya, mama saya pun langsung mengunyah jahe untuk di sembur kemulut saya karena ngomong kasar kepada abang saya agar saya tidak mengulangin kesalahan itu lagi. Sehingga saya ketakutan dan pada saat itu juga saya tidak mau bersama mama saya untuk beberapa hari, karena saya begitu takut dengan mama saya.

6.      Johan anak berusia 14 tahun adalah anak yang sering bolos dari kelas. Suatu hari dia ketahuan bolos yang kesekian kalinya oleh gurunya. Johan langsung di proses oleh guru BP nya dan dibuat surat panggilan kepada orangtua Johan. Saat mendengar hal itu, Johan sangat takut dan berjanji bahwa dia tidak akan mau bolos dari kelas saat pelajaran berlangsung.





 Belajar Kognitif
Contoh :
1. Sinta membeli mainan yaitu sebuah rubik. Saat pertama kali membelinya, sinta tidak bisa menyusun rubik yang sudah diacak. Namun setelah 2-3 minggu sinta memainkan rubik tersebut, sinta menjadi bisa menyusun rubik yang sudah  diacak itu.
2. Pada suatu hari, ibu memasak nasi goreng untuk keluarga nya. Ternyata nasi goreng yang dimasak ibu itu terlalu pedas. Keesokkan hari nya si ibu kembali memasak nasi goreng, dan kali ini nasi goreng buatan ibu sudah pas ( tidak terlalu pedas ).
3. Arya anak Paud yang berusia 2 tahun sering memperhatikan Ibunya yang selalu membereskan buku-bukunya kedalam laci setelah ia selesai belajar. Hingga pada suatu saat, setelah Arya selesai belajar, dengan inisiatif sendiri dia langsung membereskan sendiri buku-bukunya kedalam laci. Hal ini adalah salah satu proses belajar kognitif.
4. Dulu, ketika saya masih duduk di Sekolah Dasar,  saya dan teman-teman sedang bermain dilapangan bermain yang luas dan dipenuhi rumput hijau. Tidak sengaja saya melihat suatu jenis tumbuhan yang jika disentuh dapat layu/menutup dengan sendirinya. Saya heran mengapa hal itu bisa terjadi, karena rasa ingintahu saya yang besar, saya mengambil tumbuhan tersebut dan menunjukan nya kepada ibu saya. Akhirnya ibu saya menjelaskan bahwa tumbuhan itu adalah sejenis perdu yang sangat cepat menutup daunnya jika disentuh,yang biasa di sebut dengan tanaman putri malu.
5.Ada seorang anak yang ingin bermain sepeda karena melihat teman sebayanya, iya pun meminta kepada ayahnya untuk membelikan sepeda baru. Ketika sepeda baru sudah dibeli iya masih belum bisa untuk menaikinya, kakinya pun masih kaku untuk mengkayuh sepeda tersebut apalagi untuk menyeimbangkan badannya agar  tidak terjatuh, akhirnya sang ayah memberikan  roda bantu disebelah kanan  dan kiri sepeda. Seminggu pertama, iya sudah bias mengayuh sepedanya dengan lancar, dengan motivasi dan pembelajaran dari ayahnya. Di minggu kedua sang ayah mulai melepas satu roda bantu yang disebelah kanan, awalnya sang anak terjatuh karena belum bias menyeimbangkan badannya, tapi lama – kelamaan dengan diajari oleh sang ayah, sang anak mulai terbiasa dengan sepeda dengan sebelah roda bantu. Dan diminggu terakhir, sang ayah mulai melepas kedua roda bantu disepeda tersebut, awalnya sang anak terjatuh ketika menaikinya dikarenakan belum terbiasa dan belum bias menyeimbangkan  kedua badannya, akan tetapi lama kelamaan dia mulai terbiasa dengan hal tersebut, dia mulai bias menyeimbangkan kedua badannya, dan akhirnya sang anak telah mahir menggunakan sepeda tersebut.

6.Franconero anak berumur 4 tahun yang belum bias membaca menulis dan berhitung, ketika memasuki umur 5 tahun ibunya memasukkannya kedalam taman kanakkanak. Di taman kanak kanak tersebut ia mulai diajari membaca dengan cara mengeja huruf demi huruf, awalnya Franconero tidak bisa. Akan tetapi, dorongan dan motivasi dari sang guru membuatnya lebih giat berlatih, dibantu dengan kedua orang tuanya, begitulah seterusnya sampai ia bias membaca sepenuhnya ditaman kanak kanak. Tetapi ketika ditaman kanak kanak, Franconero belum diajari hitungan perkalian dan pembagian. Dan setelah masuksd ibu gurunya mengajarkan hal tersebut. Awalnya ia sangat bingung, dan dengan motivasi dari sang guru akhirnya Franconero bias melakukan operasi Matematika.