Minggu, 05 Maret 2017

Psikologi Pendidikan

Contoh-contoh belajar berdasarkan Pendekatan Klasikal,Pendekatan Operan
dan Pendekatan Kognitif
Tugas Kelompok Pikologi Pendidikan.
Oleh Kelompok 9
Iin Cristin Sidabutar : 161301015
Fitri Amelia : 161301045
Nur Annisa Putri : 1613010147
Khadijah Zahira Haq : 161301051
Muhammad Habibie Ar Rasyid : 161301053
Billy Febrinandus Saragih : 161301056
Rahul Alexander : 161301064



Metode Belajar Klasikal
Contoh :
1.Sewaktu TK, Zaza tidak menyukai warna hitam. Dan zaza menyukai boneka beruang.  Namun ketika Zaza dibelikan boneka beruang dengan baju hitam yg dikenakan beruang. Lama-lama Ia pun menjadi menyukai warna hitam
         Warna Hitam(UCS)                                           =             respon berupa tidak suka
         Boneka Beruang (UCS)                                     =          respon berupa suka
         Warna hitam (UCS) + Boneka Beruang(UCS)  =          respon berupa suka
         Warna Hitam(CS)                                              =          respon berupa suka

2.Dafa awalnya biasa saja dengan susu. Tapi Dafa sangat menyukai coklat. Suatu ketika, ibunya memberikan susu rasa coklat, dan Dafa pun jadi sangat menyukai susu coklat. Sehingga dafa pun jadi sangat menyukai susu.
Susu (Stimulus Netral)                                     =          tidak ada respon
Coklat (UCS)                                                   =          respon berupa rasa suka
Susu (Stimulus Netral) + Coklat(UCS)           =          respon berupa rasa suka
Susu(CS)                                                         =          respon berupa rasa suka

3.Raihan sangat takut dengan anjing berukuran besar. Suatu ketika, ia melihat ada kucing sedang berlari kearahnya, ternyata kucing itu sedang dikejar oleh anjing besar Raihan pun jadi terkejut dan takut karena kehadiran anjing tersebut. Hal ini menyebabkan jika ada kucing berlari, ia menjadi was was akan adanya kehadiran anjing.
Kucing (Stimulus Netral)                                =          tidak ada respon
Anjing Besar (UCS)                                        =          respon berupa rasa  takut
Kucing(Stimulus Netral) + Anjing(UCS)       =          respon berupa rasa takut
Kucing (CS)                                                     =          respon berupa rasa takut

4.Selama Bulan Ramadhan, ZOLA berusaha untuk berpuasa, walaupun ia masih belum sanggup untuk menahan lapar dan haus. Usia zola yang masih sekitar 10 tahun ia selalu berusaha untuk puasa full seharian. Setelah di iming imingi akan diberikan uang Rp. 10.000 sehari oleh bundanya, jika ia dapat berpuasa selama seharian penuh. Zola berusaha keras untuk bisa menyelesaikan puasa seharian hingga pada akhirnya waktu berbuka puasa tiba dan zola diberikan uang Rp. 10.000 oleh bundanya.

Unconditioned Stimulus (US)            :  Berpuasa
Unconditioned Respon UR                : Menahan rasa lapar dan haus
Conditioned Stimulus CS                   : Uang Rp. 10.000
Conditioned Respon CR                    : Berusaha menahan rasa lapar dan haus

5.Setiap hari pukul 16.00 wib. Dini selalu pergi mengaji di masjid, ketika dia malas untuk mengaji , sang ayah menjanjikan akan memberikan boneka baru jika ia pergi mengaji. Setiap kali ia melihat boneka baru , dini selalu malas untuk pergi mengaji sampai di berikan boneka baru.

Unconditioned Stimulus (US)                        : Pergi mengaji
Unconditioned Respon (UR)              :Rasa malas
Conditioned Stimulus (CS)                :Mainan
Conditioned Respon (CR)                  : Malas pergi mengaji

6.Ketika saya akan kuliah pada pagi hari, saya selalu tidur tidak terlalu larut malam dan mengaktifkan alarm agar bisa bngun pagi dan melaksanakan sholat subuh.

Unconditioned Stimulus (US)                        : Pergi kuliah pagi
Unconditioned Respon (UR)              : Tidak tidur larut malam
Conditioned Stimulus (CS)                : Mengaktifkan Alarm
Conditioned Respon (CR)                  : Bangun pagi

7.suara lagu dari penjual es krim yang berkeliling dari rumah ke rumah.Awalnya mungkin suara itu asing, tetapi setelah si pejual es krim sering lewat, maka nada lagu tersebut bisa menerbitkan air liur apalagi pada siang hari yang panas.Bayangkan, bila tidak ada lagu tersebut betapa lelahnya si penjual berteriak-teriak menjajakan dagangannya.

8.Bunyi bel di kelas untuk penanda waktu atau tombol antrian di bank. Tanpa disadari, terjadi proses menandai sesuatu yaitu membedakan bunyi-bunyian dari pedagang makanan(rujak, es, nasi goreng, siomay) yang sering lewat di rumah, bel masuk kelas-istirahat atau usai sekolah dan antri di bank tanpa harus berdiri lama.
       Untuk menambah kelekatan dengan pasangan, Jika anda mempunyai pasangan yang “sangat suka (UCR)” dengan coklat (UCS). Disetiap anda bertemu (CS) dengan kekasih anda maka berikanlah sebuah coklat untuk kekasih anda, secara otonom dia akan sangat suka dengan coklat pemberian anda. Berdasarkan teori, ketika hal itu dilakukan secara berulang-ulang,  selanjutnya cukup dengan bertemu dengan anda tanpa memberikan coklat, maka secara otonom pasangan anda akan sangat suka (CR) dengan anda, hal ini dapat terjadi karena pembentukan perilaku antara UCS, CS, UCR, dan CR.




Pengkondisian Operan

Penguat Positif
Ø  Frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding).
Contoh :
1.      Sewaktu kami kecil, Setiap bulan Ramadhan, orang tua saya selalu mengatakan kepada saya maupun abang-abang saya kalau misalkan pada bulan ramadhan puasa kami full 1 bulan penuh maka kami akan diberi hadiah yaitu baju baru. Karena kami dijanjiin seperti itu, maka kamipun semakin giat untuk berpuasa 1 bulan penuh untuk mendapatkan hadiah tersebut.

2.      Yoga, anak yang duduk disekolah menengah Pertama di masukan oleh ibunya kedalam suatu kelas musik. Awalnya Yoga tidak mau masuk kelas musik, namun saat ibunya berkata akan mengajaknya berlibur keluar negeri kalau dia bisa memainkan berbagai jenis alat musik, Yoga pun akhirnya mau les musik dan belatih dengan giat.

3.      Andi anak kecil berusia dua tahun dimarahi oleh ibunya jika dia buang air kecil dicelana. Sebaliknya jika Andi memberitahukan terlebih dahulu kepada ibunya kalau dia ingin buang air kecil sehingga ibunya bisa membawakan ke WC, ia akan diberikan pujian dengan mengatakan bahwa Andi adalah anak yang pintar.

            Penguat Negatif
Ø  Frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak mnyenangkan).
Contoh :
4.      Setiap keponakan saya mau makan, lauknya harus ada mie instan. Saya selalu melarangnya karena itu tidak baik jika terlalu sering, sampai dia nangis dan dia tidak akan mau makan nasi kalau tidak pakai mie instan. Jadi sayapun memperbolehkannya memakan mie instan, karena kalau tidak dia tidak akan makan nasi.
            Hukuman
Ø  Konsekueni yang menurunkan probabiitas terjadinya suatu perilaku.
Contoh :
5.      Sewaktu kecil saya orangnya nakal, suka ngomong kasar kepada abang-abang saya. Jadi suatu hari mama saya dengar kalau saya ngomong kasar kepada abang saya, lalu mama saya langsung memarahin saya, dan menarik saya, mama saya pun langsung mengunyah jahe untuk di sembur kemulut saya karena ngomong kasar kepada abang saya agar saya tidak mengulangin kesalahan itu lagi. Sehingga saya ketakutan dan pada saat itu juga saya tidak mau bersama mama saya untuk beberapa hari, karena saya begitu takut dengan mama saya.

6.      Johan anak berusia 14 tahun adalah anak yang sering bolos dari kelas. Suatu hari dia ketahuan bolos yang kesekian kalinya oleh gurunya. Johan langsung di proses oleh guru BP nya dan dibuat surat panggilan kepada orangtua Johan. Saat mendengar hal itu, Johan sangat takut dan berjanji bahwa dia tidak akan mau bolos dari kelas saat pelajaran berlangsung.





 Belajar Kognitif
Contoh :
1. Sinta membeli mainan yaitu sebuah rubik. Saat pertama kali membelinya, sinta tidak bisa menyusun rubik yang sudah diacak. Namun setelah 2-3 minggu sinta memainkan rubik tersebut, sinta menjadi bisa menyusun rubik yang sudah  diacak itu.
2. Pada suatu hari, ibu memasak nasi goreng untuk keluarga nya. Ternyata nasi goreng yang dimasak ibu itu terlalu pedas. Keesokkan hari nya si ibu kembali memasak nasi goreng, dan kali ini nasi goreng buatan ibu sudah pas ( tidak terlalu pedas ).
3. Arya anak Paud yang berusia 2 tahun sering memperhatikan Ibunya yang selalu membereskan buku-bukunya kedalam laci setelah ia selesai belajar. Hingga pada suatu saat, setelah Arya selesai belajar, dengan inisiatif sendiri dia langsung membereskan sendiri buku-bukunya kedalam laci. Hal ini adalah salah satu proses belajar kognitif.
4. Dulu, ketika saya masih duduk di Sekolah Dasar,  saya dan teman-teman sedang bermain dilapangan bermain yang luas dan dipenuhi rumput hijau. Tidak sengaja saya melihat suatu jenis tumbuhan yang jika disentuh dapat layu/menutup dengan sendirinya. Saya heran mengapa hal itu bisa terjadi, karena rasa ingintahu saya yang besar, saya mengambil tumbuhan tersebut dan menunjukan nya kepada ibu saya. Akhirnya ibu saya menjelaskan bahwa tumbuhan itu adalah sejenis perdu yang sangat cepat menutup daunnya jika disentuh,yang biasa di sebut dengan tanaman putri malu.
5.Ada seorang anak yang ingin bermain sepeda karena melihat teman sebayanya, iya pun meminta kepada ayahnya untuk membelikan sepeda baru. Ketika sepeda baru sudah dibeli iya masih belum bisa untuk menaikinya, kakinya pun masih kaku untuk mengkayuh sepeda tersebut apalagi untuk menyeimbangkan badannya agar  tidak terjatuh, akhirnya sang ayah memberikan  roda bantu disebelah kanan  dan kiri sepeda. Seminggu pertama, iya sudah bias mengayuh sepedanya dengan lancar, dengan motivasi dan pembelajaran dari ayahnya. Di minggu kedua sang ayah mulai melepas satu roda bantu yang disebelah kanan, awalnya sang anak terjatuh karena belum bias menyeimbangkan badannya, tapi lama – kelamaan dengan diajari oleh sang ayah, sang anak mulai terbiasa dengan sepeda dengan sebelah roda bantu. Dan diminggu terakhir, sang ayah mulai melepas kedua roda bantu disepeda tersebut, awalnya sang anak terjatuh ketika menaikinya dikarenakan belum terbiasa dan belum bias menyeimbangkan  kedua badannya, akan tetapi lama kelamaan dia mulai terbiasa dengan hal tersebut, dia mulai bias menyeimbangkan kedua badannya, dan akhirnya sang anak telah mahir menggunakan sepeda tersebut.

6.Franconero anak berumur 4 tahun yang belum bias membaca menulis dan berhitung, ketika memasuki umur 5 tahun ibunya memasukkannya kedalam taman kanakkanak. Di taman kanak kanak tersebut ia mulai diajari membaca dengan cara mengeja huruf demi huruf, awalnya Franconero tidak bisa. Akan tetapi, dorongan dan motivasi dari sang guru membuatnya lebih giat berlatih, dibantu dengan kedua orang tuanya, begitulah seterusnya sampai ia bias membaca sepenuhnya ditaman kanak kanak. Tetapi ketika ditaman kanak kanak, Franconero belum diajari hitungan perkalian dan pembagian. Dan setelah masuksd ibu gurunya mengajarkan hal tersebut. Awalnya ia sangat bingung, dan dengan motivasi dari sang guru akhirnya Franconero bias melakukan operasi Matematika.





0 komentar:

Posting Komentar