Jumat, 07 April 2017

INTELEGENSI

Konsep inteligensi menimbulkan kontroversi dan debat panas,  sering kali sebagai reaksi terhadap gagasan bahwa setiap orang punya kapasitas mental umum yang dapat diukur dan dikuantifikasi dalam angka.  Pihak sekolah dan departemen pendidikan memperdebatkan apakah tes inteligensi itu berguna dan cukup fair atau tidak.  Mereka juga berdebat tentang apakah tes seperti itu akan dipakai untuk penempatan murid pada kelas khusus atau jurusan tertentu.  Psikolog pendidikan memperdebatkan apakah kita punya kapasitas mental umum ataukah sejumlah kapasitas mental spesifik.  Juga,  apabila kita punya beragam kapasitas mental,  lalu apa kapasitas itu?  Berapa banyak yang kita punya?
Novelis Inggris abad ke-20 Aldous Huxley mengatakan bahwa anak-anak itu hebat dalam hal rasa ingin tahu dan inteligensinya.  Apa yang dimaksud Huxley ketika dia menggunakan kata inteligensi (intelligence)?  Inteligensi adalah salah satu milik kita yang paling berharga,  tetapi bahkan orang yang paling cerdas sekalipun tidak sepakat tentang apa inteligensi itu.  Berbeda dengan berat dan tinggi badan dan usia,  inteligensi tidak bisa diukur secara langsung.  Anda tidak bisa mengintip ke-  pala murid Anda untuk mengamati inteligensi yang ada di dalamnya.  Kita hanya bisa mengevaluasi inteligensi murid secara tak langsung dengan cara mempelajari tindakan inteligensi murid.  Kita lebih banyak mengandalkan pada tes inteligensi tertulis untuk memperkirakan inteligensi murid.
Minat terhadap inteligensi sering kali difokuskan pada perbedaan individual dan penilaian individual. Perbedaan individual adalah cara di mana orang berbeda satu sama lain secara konsisten dan tetap.  Kita bisa berbicara tentang perbedaan individual dalam hal kepribadiannya (personalitas)  dan dalam bidang-bidang lain,  namun inteligensilah yang paling banyak diberi perhatian dan paling banyak dipakai untuk menarik kesimpulan tentang perbedaan kemampuan murid.
Beberapa tes inteligensi :
Ø  Tes Iteligensi Individual
1. Tes Binet
Tes itu disebut Skala 1905.  Tes ini terdiri dari 30 pertanyaan,  mulai dari kemampuan untuk menyentuh telinga hingga kemampuan untuk menggambar desain berdasarkan ingatan dan mendefinisikan konsep abstrak. pad Binet mengembangkan konsep mental age (MA)  atau usia mental,  yakni level perkembangan mental individu yang berkaitan dengan perkembangan lain.  Tak lama kemudian,  pada 1912 William Stern menciptakan konsep intelligence quotient (IQ),  yaitu usia mental seseorang dibagi dengan usia kronologis (chronological age CA),  dikalikan 100.  Jadi rumusnya IQ MA/CA x 100 Jika usia mental sama dengan usia kronologis,  maka IQ orang itu adalah 100 Jika usia mental di atas usia kronologis,  maka IQ-nya lebih dari 100.  misalnya,  anak enam tahun dengan usia mental 8 tahun akan punya IQ 133.  Jika usia mentalnya di bawah usia kronologis,  maka lQ-nya di bawah 100.  Misalkan anak usia 6 dengan usia mental 5 akan punya lQ 83.
Tes Binet direvisi berkali-kali untuk disesuaikan dengan kemajuan dalam pema haman inteligensi dan tes inteligensi.  Revisi-revisi ini disebut tes Stanford-Binet.  Dengan melakukan tes untuk banyak orang dari usia yang berbeda dan latar belakang yang beragam,  peneliti menemukan bahwa skor pada tes Stanford-Binet mendekati distribusi normal. distribusi normal adalah simetris,  dengan mayoritas skor berada pada tengah-tengah rentang skor yang mungkin muncul dan hanya ada sedikit skor yang berada mendekati ujung dari rentang itu.

2.Skala Wechsler.
     Tes lainnya yang banyak dipakai untuk menilai inteligensi murid dinamakan skala Wechsler yang dikembangkan oleh David Wechsler.  Tes ini mencakup Wechsler Preschool and Primary Scale of Intelligence-Revised (WPPSI-  R)  untuk menguji anak usia 4 sampai 6 tahun;  Wechsler Intelligence Scale for Chidren-Revised (WISC-R)  untuk anak dan remaja dari usia 6 hingga 16 tahun,  dan Wechsler Adult Intelligence Scale-Revised (WAIS-R)  Selain menunjukkan IQ keseluruhan,  skala Wechsler juga menunjukkan IQ verbal dan IQ kinerja.  IQ verbal didasarkan pada enam subskala verbal,  IQ kinerja didasarkan pada lima subskala kinerja.  Ini membuat peneliti bisa melihat dengan cepat pola-pola kekuatan dan kelemahan dalam area inteligensi murid yang berbeda-beda.

Ø  Tes individual versus Tes Kelompok
Tess inteligensi seperti Stanford-Binet dan Wechsler dilakukan berdasarkan basis individual.  Seorang psikolog memahami penilaian inteligensi individual sebagai interaksi antara pemeriksa dan murid.  Ini membuat psikolog tersebut bisa menyusun sampel perilaku murid.  Selama pengujian,  peneliti mengamati bagaimana laporan disusun,  minat dan perhatian murid,  apakah ada kecemasan dalam pe ngerjaan tugas,  dan tingkat toleransi murid menghadapi rasa frustasi.  Murid juga diberi tes inteligensi dalam kelompok pada saat yang bersamaan.  Tes inteligensi kelompok mencakup Lorge-Thorndike Intelligence list Tests,  Kuhlman-Anderson Intelligence Tests,  dan Otis-Lennon School Mental Abilities Tests.  Tes kelompok lebih nyaman dan ekonomis ketimbang tes individual,  namun juga ada kekurangannya.  Saat tes dilakukan pada satu kelompok besar,  peneliti tak dapat menyusun laporan individual,  menentukan tingkat kecemasan murid,  dan sebagainya.  Dalam situasi tes kelompok besar,  murid mungkin tidak memahami instruksi atau mungkin diganggu oleh murid lainnya.

Karena keterbatasan ini,  maka saat akan dibuat keputusan penting menyangkut murid,  tes inteligensi kelompok harus dilengkapi dengan informasi lain tentang kemampuan murid.  Strategi yang sama juga berlaku untuk tes individual,  meskipun biasanya kita lebih baik tidak terlalu yakin pada akurasi skor tes inteligensi kelompok.  Banyak murid yang mengikuti tes dalam kelompok besar di sekolah,  tetapi keputusan untuk menempatkan murid dalam kelas khusus anak penderita retardasi mental,  kelas pendidikan khusus,  atau kelas anak berbakat sebaiknya tidak didasarkan pada tes kelompok saja.  Dalam kasus seperti itu,  informasi relevan tentang kemampuan murid harus diperoleh dengan cara selain menggunakan tes.


0 komentar:

Posting Komentar